MATERI BAHASA INDONESIA UNTUK PERKULIAHAN SEMESTER PERTAMA

11 Nov

TUGAS SOFTSKILL BAHASA INDONESIA
PENGERTIAN DARI JENIS KARANGAN:
• Deskripsi
• Narasi
• Eksposisi
• Argumentasi
• Persuasi

Nama : Yanson Bastian
Kelas : 3EA11
NPM : 11208407

1. DESKRIPSI
Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/ keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
Contoh deskripsi berisi fakta:
Hampir semua pelosok Mentawai indah. Di empat kecamatan masih terdapat hutan yang masih perawan. Hutan ini menyimpan ratusan jenis flora dan fauna. Hutan Mentawai juga menyimpan anggrek aneka jenis dan fauna yang hanya terdapat di Mentawai. Siamang kerdil, lutung Mentawai dan beruk Simakobu adalah contoh primata yang menarik untuk bahan penelitian dan objek wisata.
Contoh deskripsi berupa fiksi:
Salju tipis melapis rumput, putih berkilau diseling warna jingga; bayang matahari senja yang memantul. Angin awal musim dingin bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim gugur dan menderaikan bulu-bulu burung berwarna kuning kecoklatan yang sedang meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting yang lain.
Topik yang tepat untuk deskripsi misalnya:

Keindahan Bukit Kintamani
Suasa pelaksanaan Promosi Kompetensi Siswa SMK Tingkat Nasional
Keadaan ruang praktik
Keadaan daerah yang dilanda bencana
Langkah menyusun deskripsi:
Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan
Tentukan tujuan
Tentukan aspek-aspek yang akan dideskripsikan dengan melakukan pengamatan
Susunlah aspek-aspek tersebut ke dalam urutan yang baik, apakah urutan lokasi, urutan waktu, atau urutan menurut kepentingan
Kembangkan kerangka menjadi deskripsi

2. NARASI
Secara sederhana narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu

urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik.
Narasi dapat berisi fakta atau fiksi.
CIRI-CIRI KARANGAN NARASI
Menurut Keraf (2000:136), ciri karangan narasi yaitu:
Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan.
Dirangkai dalam urutan waktu.
Berusaha menjawab pertanyaan, apa yang terjadi?
Ada konfiks.
Contoh narasi yang berisi fakta: biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. 

Contoh narasi yang berupa fiksi:
novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
Pola narasi secara sederhana: 
awal – tengah – akhir

Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. 
Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.

Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.

Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.
Contoh narasi berisi fakta:
Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama adalah seorang nasionalis. Ia memimpin PNI pada tahun 1928. Soekarno menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan karena keberaniannya menentang penjajah.

Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949.

Contoh narasi fiksi:
Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.

Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?

Langkah menyusun narasi (fiksi):
Langkah menyusun narasi (fiksi) melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Cerita dirangkai dengan menggunakan “rumus” 5 W + 1 H. Di mana seting/ lokasi ceritanya, siapa pelaku ceritanya, apa yang akan diceritakan, kapan peristiwa-peristiwa berlangsung, mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan bagaimana cerita itu dipaparkan.

3. EKSPOSISI
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca.
Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik.

Contoh:
Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan.

Ciri-ciri paragraf eksposisi:
a. Memaparkan definisi (pengertian)
b. Memaparkan langkah-langkah, metode, atau cara melaksanakan suatu kegiatan.

Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum dalam laporan tersebut.

Topik yang tepat untuk eksposisi, antara lain:
Manfaat kegiatan ekstrakurikuler
Peranan majalah dinding di sekolah
Sekolah kejuruan sebagai penghasil tenaga terampil.
Tidak jarang eksposisi berisi uraian tentang langkah/ cara/ proses kerja. 
Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.

Contoh paparan proses:
Cara mencangkok tanaman:
1. Siapkan pisau, tali rafia, tanah yang
subur, dan sabut secukupnya.
2. Pilihlah ranting yang tegak, kekar, dan
sehat dengan diameter kira-kira 1,5
sampai 2 cm.
3. Kulit ranting yang akan dicangkok dikerat
dan dikelupas sampai bersih kira-kira
sepanjang 10 cm.
Langkah menyusun eksposisi:
Menentukan topik/ tema
Menetapkan tujuan
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.

4. ARGUMENTASI
Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta sebagai alasan/ bukti.
Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.

Contoh:
Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa kepahlawanan. Pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur, berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang.
Tema/ topik yang tepat untuk argumentasi, misalnya:
Disiplin kunci sukses berwirausaha
Teknologi komunikasi harus segera dikuasai
Sekolah Menengah Kejuruan sebagai aset bangsa yang potensial
Langkah menyusun argumentasi:

Ciri-ciri karangan argumentasi:
Menjelaskan pendapat agar pembaca yakin.
Memerlukan fakta untuk pembuktian berupa gambar/grafik, dan lain-lain.
Menggali sumber ide dari pengamatan, pengalaman, dan penelitian.
Penutup berisi kesimpulan.

Menentukan topik/ tema
Menetapkan tujuan
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi

5. PERSUASI
Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu.
Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.

Topik/ tema yang tepat untuk persuasi, misalnya:

Katakan tidak pada NARKOBA
Hemat energi demi generasi mendatang
Hutan sahabat kita
Hidup sehat tanpa rokok
Membaca memperluas cakrawala
Langkah menyusun persuasi:
Menentukan topik/ tema
Merumuskan tujuan
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Menyusun kerangka karangan
Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi

 

 

(Contoh penulisan kata depan yang tepat) – Penulisan Kata Depan – Kata depan (dike, dan dari) ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali didalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap seabgai satu kata seperti kepada dan daripada. Kata depan digunakan untuk menunjukkan suatu tempat, letak, atau posisi suatu benda.

Contoh penulisan kata depan:

  • Buku itu kusimpan di dalam lemari.
  • Ayah menanam pohon mangga di kebun belakang rumah.
  • Ibu pergi ke pasar.
  • Teman baruku berasal dari Surabaya.
  • Tio lebih tinggi daripada Sandi.
  • Bingkisan itu kuserahkan kepada Pak Guru

Aturan Penulisan Kata di dan ke

Ada dua cara penulisan kata  di   dan   ke, yaitu:
1. dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya
2. dipisahkan dari kata yang mengikutinya

Di   ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya apabila kata yang mengikuti kata   di   tersebut tergolong kata kerja. Dalam istilah tatabahasa dikatakan apabila   di  tersebut tidak dapat digantikan oleh   ke. Jadi, karena dalam bahasa Indonesia  yang baik dan benar tidak ada bentuk keambil kebawa, ketulis, kebaca, dan kebeli, maka jika kata-kata dasar tersebut dihubungkan dengan  di   harus dituliskan   diambil, dibawa, ditulis, dibaca, dibeli.

Contoh lain:
di + pegang  =  dipegang
di + tembak = ditembak
di + terima = diterima

Sebaliknya jika kedudukan di   tersebut bisa digantikan oleh   ke   maka penulisannya harus dipisahkan.

Menurut istilah tatabahasa,  di  harus terpisah dengan kata yang mengikutinya jika  di  berfungsi sebagai kata depan.

Kata   di   dan   ke   berfungsi sebagai kata depan jika diikuti oleh :
1. kata benda
contoh:
di rumah    –     ke rumah
di pasar     –    ke pasa
di sekolah   –   ke pasar
di laut    –    ke  laut

2. kata yang menunjukkan arah atau tempat
contoh:
di sana – ke sana
di situ – ke situ
di dalam – ke dalam
di utara – ke utara

Kata   ke    harus ditulis serangkat dengan kata yang mengikutinya jika  ke  tersebut;
1. diikuti oleh kata bilangan, baik kata bilangan tentu maupun kata bilangan tak tentu
contoh:
ke + satu = kesatu
ke + sepulau = kesepuluh
ke + sekian = kesekian

2. diikuti oleh kata :  kasih, tua,  hendak
3. sebagai bagian dari kata yang bersangkutan
contoh:
kemarin, kemudian, kepala, kepada

Perlu diperhatikan  penulisan kata   di   bila diikuti kata   samping      dan  penulisan kata  ke  bila diikuti kata    luar.  Masing-masing kata itu mempunyai dua bentuk penulisan, ada yang digabung ada yang dipisah.

Di  dan  samping ditulis terpisah jika menunjukkan  arah atau tempat.
Contoh:
Rumahnya persis berada di samping Masjid Darul Hikmah Desa Aia Janiah Pematang Pudu, Duri.

Di   dan  samping ditulis serangkai jika kata tersebut mengandung makna keculai atau selain.
Contoh:
Disamping sebagai pegawai negeri, ia juga seorang wiraswastawan.
Perbuatan itu disamping merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain.

 Kata  ke   dan luar ditulis terpisah apabila kata tersebut merupakan kebalikan dari kata  ke  dalam.
Contoh:
Ia sering bertugas ke luar kota.
Yudi sering bepergian ke luar negeri untuk mengajar tentang bahasa Minangkabau.

Ke  dan  luar  ditulis serangkai jika  kata tersebut lawan dari kata   masuk.
Contoh:
Badu keluar dari perusahaan tempat ia bekerja untuk menjadi pengusaha.
Pramuka SIT Mutiara keluar masuk hutan untuk mendapatkan Penegak Garuda.

Tindakan mengutip dalam penulisan karya ilmiah dibenarkan. Tindakan ini untuk memberikan kejelasan tentang topik yang sedang dikerjakan, bahkan memberikan penanda penulis menguasai informasi yang sudah ada, bahkan penulis bisa mengaitkan dengan informasi yang ada tersebut dengan topik yang sedang dikerjakan. Jadi teknik penulisan kutipan itu tidak dapat sembarang dilakukan harus sesuai dengan topiknya.

Pengutipan adalah proses peminjaman kalimat atau pendapat seorang pengarang atau ucapan seseorang yang ahli dalam bidang yang ditulis. Penulis telah melakukan tindakan yang beritikad baik, sebab penulis telah meneliti informasi yang ada dan telah ditulis oleh orang lain. Tindakan mengutip bukan semata-mata meniru teks orang lain. Tindakan mengutip bukan untuk kesombongan, bahwa penulis memajang sejumlah pustaka yang telah dikuasai. Begitu juga dengan teknik penulisan kutipan harus sesuai dengan kaidah bahasa yang benar.

Jenis kutipan ada dua, yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung, yaitu penulis menulis apa adanya teks yang dikutip. Penulis tidak mengubah kata-kata atau ejaan yang digunakan dalam teks yang dikutip. Sedangkan kutipan tidak langsung adalah penulis menuliskan intisari dari pendapat yang ada di sumber kutipan.

Cara pengutipan yang harus anda perhatikan, yaitu:

a. Kutipan langsung

Tata cara penulisan kutipan langsung kurang dari empat baris:
diintegrasikan (disatukan) dengan teks penulis
jarak antar baris spasi ganda (dua spasi)
kutipan diapit dengan tanda kutip “…”
akhir kutipan diikuti dengan tanda kurung buka, nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat kutipan, diakhiri dengan tanda kurung tutup.

Tata cara penulisan kutipan langsung lebih dari empat baris:
kutipan dipisahkan dari teks dengan jarak 2,5 spasi
jarak antarbaris satu spasi
kutipan boleh diapit dengan tanda kutip
akhir kutipan diikuti dengan tanda kurung buka, nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat kutipan, diakhiri dengan tanda kurung tutup
seluruh kutipan menjorok ke dalam 5-7 huruf/ karakter, bila alinea

b. Kutipan tidak langsung
Gagasan yang dikutip diintegrasikan dengan teks, jarak antarbaris dua spasi, tanpa penggunaan tanda kutip dan diangkhiri dengan tanda kurung buka, nama singkat, tahun terbit, dan nomor halaman, diakhiri dengan tanda kurung tutup.

Teknik penulisan kutipan sudah dijelaskan di atas, jadi untuk penulisan kutipan yang selanjutnya diharapkan anda tidak akan salah lagi. Karena meskipun cuma mengutip tapi tetap harus ada prosedurnya, tidak hanya sekedar menulis kutipan dari penulis yang lain saja. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    Langkah-langkah Penulisan Makalah

     Dalam pembuatan/ menyusun makalah, perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :

1.             1. Mempelajari/ menganalisa topik yang akan ditulis
           2. Menyusun pola pikir, meliputi :

               –       Pokok masalah dalam topik.

               –      Menentukan tujuan dan ruang lingkup.

3.             3. Pengumpulan bahan-bahan materi (referensi)

4.             4. Menulis/ menyusun makalah dituntut :

               –      Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

               –      Susunan kalimat yang mudah dipahami.

               –      Rangkaian uraian yang berkaitan

a.  Singkat, padat, tegas, dan jelas dalam uraian. 

b.   Menulis/ menyusun makalah secara “tidak bombastis”, banyak atau panjang kalimatnya tanpa isi yang jelas

 

II.      Sistematika Penulisan Makalah

 

Untuk mendukung terhadap penyusunan makalah yang baik, maka Makalah hendaknya disesuaikan  dengan sistematika sebagai berikut :

1.      Lembar Judul , memuat:  Judul Makalah, Nama, NIM, Nama dan Tempat Perguruan Tinggi, Tahun
2.      Lembar Pengesahan
3.      Kata Pengantar
4.      Daftar Isi
5.      Daftar Gambar (jika ada)
6.      Daftar Tabel (jika ada)
7.      Batang Tubuh Makalah , terdiri dari :

a.    Pendahuluan  berisi pengantar ke permasalahan pokok yang memberikan gambaran tentang batasan dan tujuan penulisan. Isi pendahuluan + 15 %. Bab ini dibagi dalam 3 Sub Bab sebagai berikut :

 

(1) Latar Belakang,  memberikan penjelasan tentang manfaat/ pentingnya timbulnya Judul/ Topik  untuk dibahas.

(2) Ruang Lingkup, Memberikan penjelasan tentang ruang lingkup permasalahan yang menjadi batasan pembahasan.

(3) Maksud dan Tujuan Penulisan, memberikan penjelasan tentang maksud penulisan makalah dan tujuan berisi tentang hal yang diinginkan pada penulisan makalah, sesuai dengan konteks permasalahan yang akan dibahas.

 

b.      Pembahasan ( ditulis topiknya )  merupakan isi dari makalah, berupa uraian yang relevan dengan ruang lingkup. Isi pembahasan +75%, dengan pembagian meliputi :

 

(1) Uraian yang membahas pemecahan masalah sesuai dengan lsi topik.

(2) Dalam menguraikan pembahasan ini dapat menggunakan bahan referensi yang resmi.

 

(3)  Bila mungkin dapat memuat f aktor-faktor penentu (faktor pendukung dan f aktor penghambat).

 

(4)  Pada dasarnya uraian tersebut adalah untuk menjawab permasalahan dengan alternatif pemecahan masalah.

 

c.        Penutup, Pada bab yang terakhir ini berisi tentang kesimpulan dan saran yang pada dasarnya merupakan penegasan inti makalah yang dirumuskan dengan jelas, singkat, dan tegas. Isi penutup + 10%.

1.      Kesimpulan Berisi jawaban dan permasalahan dalam bentuk resume atau ikhtisar dari permasalahan.

2.      Saran yang dimaksud di sini, merupakan usul atau pendapat dari penulis yang mengacu pada materi pembahasan. Hendaknya dikemukakan secara jelas dan kemungkinan dapat dilaksanakan.

 

d.       Daftar Pustaka  merupakan acuan dalam penulisan makalah baik dari buku, surat kabar, internet, dan sumber tertulis lainnya.

Contoh penulisan daftar pustaka :

Sunarto, Perpajakan, BPFE Universitas Taman Siswa Yogyakarta dan Air printing, Yogyakarta: 2OO2.

 

e.         Lampiran-lampiran

 

III.       Teknik Penomoran

 

Teknik yang digunakan dalam penomoran bab dan bagian -bagiannya adalah sebagai berikut:

 

I _______________________ (Bab)

 

A _______________________ (Judul)

 

1. _______________________ (Sub Judul )

 

a. _______________________ (Sub SubJudul)

 

1) _______________________ (dst)

 

a) _______________________ (dst)

 

Teknik Kutipan

 Kutipan berfungsi sebagai pendukung penulisan makalah.

1.       Kutipan Tidak Langsung adalah kutipan dengan mengambil pendapat/ uraian dari buku/ sumber lain yang penyajiann ya dengan bahasan sendiri. Contoh : Sehingga ada 3 kategori pembagian barang dan jasa menurut hubungannya yaitu barang komplementer, barang subtitusi, dan barang bebas.

 

2.       Kutipan Langsung adalah kutipan dari buku atau tulisan yang harus sama dengan aslinya baik dengan susunan kata-katanya maupun tanda bacanya. Kutipan yang panjangnya 5 (lima) baris atau lebih, diketik ber spasi 1 (satu) dengan mengosongkan lima ketik dari garis batas / margin sebelah kiri dengan tidak diberi tanda kutip. Contoh : Menurut Sunarto, dalam bukunya berjudul Perpajakan (2002:46), yang dimaksud dengan Objek pajak adalah Penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari indonesia maupun dari luar indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kelkayaan wajib pajak yang bersangkutan , dengan nama dan dalam bentuk apapun.

 

IV.    Format Ukuran Kertas dan Sampul
     1.      Kertas : A4 80 gram
     2.      Sampul : Kertas Buffalo warna Kuning
     3.      Font : Arial
     4.      Size : 11
     5.      Spasi : 1,5
     6.      Margin
          – Atas : 4 cm

          – Kiri : 4 cm

          –  Bawah : 3 cm

          –   Kanan : 3 cm
     7.       Makalah ditulis minimal 10 halaman belum termasuk halaman Judul, Lampiran, dan Daftar Pustaka.
     8.       Nomor Halaman

          ·     Letak di kanan atas

          ·     Angka i,ii,iii,dst. Mulai dari kata pengantar sampai dengan sebelum Bab Pendahuluan.

          ·     Angka 1,2,dst. Mulai dari Pendahuluan sampai dengan akhir

sumber : http://ismorosiyadi.blogspot.com/2011/12/cara-membuat-makalah.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: